PERAN ORANGTUA MENUMBUHKAN KONSEP DIRI POSITIF PADA ANAK
Oleh ibu Natalia, M.Psi (psikolog anak)
*PERAN
ORANGTUA
Orangtua adalah
lingkungan sosial pertama anak. Orangtua, lebih dari siapapun, mempunyai
peranan yang sangat penting dalam pembentukan konsep diri positif pada anak.
Orang tua yang memiliki konsep diri positif akan menampilkan tingkah laku yang
menunjukkan rasa percaya diri dan memiliki pandangan yang optimis. Konsep dan
sikap tersebut tersebut juga "ditularkan" kepada anaknya, baik
melalui proses meniru ataupun melalui evaluasi yang diberikan orangtua terhadap
perilaku anak. Orangtua dengan konsep diri positif, akan menunjukkan ekspresi
rasa sayang dengan sering memeluk atau memberikan pujian terhadap setiap usaha
dan keberhasilan anak.
*KONSEP DIRI POSITIF PADA ANAK
Anak yang
memiliki konsep diri positif, dapat memandang, menilai dan memiliki persepsi
yang positif mengenai dirinya. Konsep diri yang positif menurut Millie Ferrer
dan Anne Fugate dalam karya ilmiahnya, “Helping Your School Age Child Develop a
Healthy Self Concept”, formulasi dari perasaan nyaman terhadap diri sendiri,
rasa diterima oleh lingkungan sekitar, dan rasa mampu melakukan sesuatu hal
dengan baik. “Dia melihat dirinya sebagai orang yang dicintai dan
berharga." Sebaliknya, anak yang memiliki konsep diri negatif, akan
menunjukkan karakteristik sikap dan tingkah laku rendah diri. Hal ini dapat
mengganggu penyesuaian diri anak di lingkungan sosial. “Anak bisa menarik diri,
sulit berbaur dengan lingkungan sosial, tidak mandiri, sampai dapat menimbulkan
perasaan terasing,” katanya. Misalnya, seorang anak mengajak temannya bermain,
tetapi temannya tidak mau. Anak yang memiliki konsep diri yang positif akan
berpikir, “Tidak apa-apa... Aku bermain dengan yang lain saja.” Sementara anak
yang mempunyai konsep diri negatif mungkin akan berpikir sebaliknya, “Dia tidak
suka padaku.” Konsep diri negatif,juga dapat mempengaruhi pencapaian prestasi
akademis. Misalnya ketika anak mendapat nilai jelek, anak yang memiliki konsep
diri positif, merasa terpacu untuk belajar lebih keras dan berusaha untuk
mendapatkan nilai yang lebih baik pada ujian berikutnya. Berbeda dengan anak
yang memiliki konsep diri negatif yang mudah putus asa, dan bahkan kemudian
menganggap dirinya bodoh atau tak punya kemampuan untuk memperbaiki diri. Oleh
karena itu jika orang tua sudah 'terlanjur' memiliki konsep diri yang negatif,
sebaiknya orangtua menyadari kondisi dirinya dan berusaha menciptakan atmosfer
yang kondusif bagi perkembangan anaknya. Hal ini dapat dilakukan dengan
memberikan evaluasi dan penilaian yang bersifat positif terhadap anak. Sebagai
suatu proses, memang tidak mudah mengubah konsep diri yang sudah terbentuk.
Namun tidak ada salahnya orangtua berusaha menggali berbagai potensi yang
dimiliki, mengubah sikap pesimis menjadi optimis, serta bersikap lebih terbuka
terhadap penilaian dari orang lain yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki
diri.
* KESIMPULAN
Jadi hal penting yang harus dilakukan orangtua dgn anak special needs: salurkan
emosi dgn benar,terima dan beri dukungan sesama anggota keluarga,lebih
sabar,jgn mencemaskan hal2 yang belum terjadi,buat hidup lebih
teratur,istirahat cukup,kompak dengan pasangan (pembagian tugas),banyak beri
pujian pada anak,libatkan siblings dalam merawat atau melatih keterampilan
sehari2, fokus pada kata2 positif dr lingkungan, usahakan selalu ada 'me
time',terbuka pada masukan positif,jgn membanding2kan anak dgn kelebihan anak
lain,dan terakhir jangan lupa tunjukkan SENYUM terbaik anda setiap hari di
depan anak2.
Q & A session
Q : Anak saya bulan November
nanti 2 thn. Kadang ya rebel gitu. Tantrum atau apalah, ada yang bilang kalau
masuk terible two. Bagaimana mengatasinya ya?
A : usia 2 sampai 4 thn anak masuk tahap negativistik bu, jadi biasanya anak
akan membantah apapun yg kita ucapkan. Saat anak rebel, orang tua diharapkan
tetap tegas pada aturan. Tidak ya tidak. saat ini anak sedang dikenalkan pada
aturan yang ada di sekelilingnya.
Jika dia tantrum dan kita turuti keinginannya, maka tantrumnya akan semakin
berat
Saat tantrum, segera alihkan pada hal lain yg menarik bagi anak.
Q : Terkait dengan masalah penetapan aturan, bagaimana cara menyingkapi
perbedaan budaya yang juga beda penetapan aturan? Agar anak juga tidak jadi
bingung.
A : Sebelum menerapkan aturan, sebaiknya dibuat dulu kesepakatan antara suami
dan istri, jadi jangan sampai ada 2 suara saat sudah berhadapan dengan anak
Q : Bagaimana cara yang baik dalam menghadapi anak yang tantrum?
A : Beberapa pasien yang saya terapi, saat mereka tantrum, hal yang paling
cepat menenangkan mereka adalah musik atau bernyanyi, tapi kalau sudah mulai
menyakiti diri sendiri, biasanya kita peluk anak dari belakang sambil memberi
kata-kata yang menenangkan, setelah reda kita beri kegiatan lain yang dia suka.
Q : Kalau pada keluarga yang
jarang ada kehadiran salah 1 ortu bagaimana yah? Misal sang ayah jarang hadir
di rumah.
A : kalau sedang tidak ada pasangan (suami) diharapkan ada pihak lain yang
membantu, karena kalau tidak ada bantuan sama sekali, stress pada ibu akan
meningkat sehingga emosi seringkali tidal terkontrol, tapi kalau anak sudah
lebih besar usianya, kita latih dia untuk lebih mandiri, misalnya ambil gelas
sendiri, dengan demikian tugas ibu menjadi tidak terlalu berat.
Bantuan dari pihak luar sangat dibutuhkan, kalau tidak ada keluarga dekat, kita
bisa pakai PRT harian untuk membantu tugas sehari-hari, jadi kita bisa lebih
fokus pada anak.
Q : Bagaimana jika emosi sempat benar-benar tidak terkendali dan sudah
terlanjur 'meledak'?
A : Jika saat itu sudah terlanjur 'meledak', sebaiknya setelah itu beri
penjelasan pada anak, misal : maafin mama ya nak, tadi mama marah terlalu
keras, mungkin karena mama cape sekali hari ini.(sambil peluk anak-anak)
Q : Anak saya tinggal di asrama.
Dia selalu punya target dalam belajar padahal kondisi kesehatannya kurang
memungkinkan. Bagaimana cara menasehati yang baik agar dia tidak demotivasi.
A : Mungkin ibu bisa kenalkan beberapa hobby baru pada anak ibu, sehingga dia
tidak selalu fokus pada pelajaran, misalnya bidang musik atau olah raga, kedua
bidang ini bisa membuat anak ibu lebih relaks.
Selain itu, sebaiknya anak sering diberi pujian untuk hal-hal kecil dan tidak
terlalu mendapat banyak kritikan sehingga targetnya tidak terlalu tinggi.
Q : Anak saya pernah bilang bahwa dia sering ijin karena sakit. Katanya kalo
dia tidak semangat belajar dia tidak punya hal yang bisa dia banggakan
(menurutnya begitu). Apakah itu efek dari saya sebagai single parent?
A : Iya bu, anak-anak dari keluarga yang sudah berpisah biasanya memiliki
konsep diri negatif, jadi sangat membutuhkan penjelasan dari kedua orangtua
dengan cukup bijak, yang bisa menenangkan anak-anak.
Komunikasi antar orangtua juga sebaiknya tetap terjalin dengan baik. Setidaknya
anak tahu bahwa orangtuanya tidak saling bermusuhan.
Q : Bagaimana jika orang
terdekat seringkali melontarkan kata-kata negatif?
A : Kata-kata negatif dari lingkungan bisa berdampak buruk bagi kesehatan
mental keluarga, sebaiknya diberi pengertian agar selalu fokus pada hal-hal
positif dalam diri anak dan mau bekerja sama untuk meningkatkan konsep diri
positif pada anak
A : Saya sering dapat info jangan mennyebut anak dengan kata negatif, seperti
kamu anak nakal, tapi saat emosi hal itu selalu tidak sengaja terlontar, apa
yang seharusnya kami lakukan sebagai orangtua untu menunjukkan tindakan anak
itu salah dan tidak boleh diulang lagi?
Q : Iya bu, saat emosi biasanya sulit mengontrol kata-kata tapi tetap tegaskan
pada anak apa kesalahan dia dan kenapa orangtua sampai marah, lalu tanyakan
kembali pada anak, apa sudah paham atau belum kesalahan dia di mana, dan
tanyakan juga pada anak, seandainya dia mengulangi kembali, konsekuensi apa
yang ingin dia terima dari orangtuanya, biasanya jika anak yang mengatakan
konsekuensinya, anak akan lebih patuh dan tidak marah saat dia mendapat
konsekuensi negatif itu, misal : iya ma, kalau aku nakal lagi aku gak akan
nonton tv 1 hari.
Q : Terkait dengan konsep diri.
Pada ABK kan rentan banget dibully, ini bagaimana mengatasinya? Apakah cukup
dengan kita mengencourage si anak bahwa dia adalah diri yg positif? Atau ada
cara lain? Kan kalau ortu cuma 2orang jika dibanding dengan lingkungan yang
banyak itu bagaimana?
A : Untuk anak yang dibully, sebaiknya libatkan pihak lain misalnya guru untuk
menjembatani antara anak dan teman-temannya, guru bisa meminta anak lain untuk
membantu ABK untuk lebih berkembang di kelasnya misalnya jadi asisten guru
cilik, ini sudah diterapkan di beberapa sekolah.
Untuk anak kita sebaiknya terus cari apa kelebihan yang dia miliki yang tidak
dimiliki anak lain, dan buat dia bangga dengan kelebihannya itu.
Q : Bagaimana jika yang membully justru orang dekat,dewasa seperti misalnya
eyang, om, tante, dsb?
A : Dua sosok terpenting dalam hidup anak adalah ayah dan ibunya, kepercayaan
anak tercurah pada apa yang dikatakan oleh kedua orgtuanya. Jadi jika
orangtuanya selalu positif, anak akan terbawa menjadi positif. apapun yang
dikatakan oleh lingkungan biasanya tidak akan menusuk sedalam kalau orangtua
yang mengatakan hal itu, jadi terus beri pujian, cari kelebihan anak, dan
jangan lelah untuk berbicara pada eyangnya atau yang lain bahwa si kecil adalah
hadiah terindah dari Tuhan.
Q : Bagaimana jika justru sang ayah yang membully si anak?
A : Terus dekati hati anak, beri pujian supaya dia lebih kuat menghadapi lingkungan
yang negatif.
Ada salah satu pasien saya yang orangtuanya sangat positif, kemanapun mereka
pergi anaknya selalu diajak (sekarang usia anaknya sudah 35 tahun). kepada
siapapun mereka selalu menceritakan hal positif tentang anaknya, walaupun
memiliki keterbatasan, tapi mimik wajah anaknya selalu happy dan tanpa beban.
Q : Apakah ABK secara psikologis
lebih sensitif?
A : betul, memang lebih sensitif.
Q : Kata-kata positif yang benar
itu seperti apa contohnya dan kata-kata apa yang harus dihindari untuk komunikasi
dengan anak?
A : Contohnya :
- Kamu anak mama yang paling baik.
- Wah hebat anak mama bisa mandi sendiri?
- Terima kasih ya gelasnya sudah ditaruh di dapur.
Kata-kata yang harus dihindari adalah kata-kata negatif seperti :
- Koq gitu aja gak bisa sih?
- Koq lama sekali sih pakai bajunya?
- dll
Ke pihak luar juga bisa dikatakan :
- Anak saya hebat lho, tadi dia bisa buka kunci sendiri ( hal2 kecil apapun
bisa diberikan pujian pada anak)
Q : Apakah selalu memberikan pujian akan berdampak buruk?
A : Aturan tetap harus diberikan dengan tegas, kalau salah harus diberi
konsekuensi negatif ( misal ditarik hal-hal yang dia sukai), jadi tidak selalu
diberikan pujian.
Untuk ABK yang memiliki banyak keterbatasan kata-kata positif sangat membantu
mereka untuk survive karena lingkungan seringkali bersikap sangat negatif pada
mereka, tapi tetap kita puji untuk hal-hal yang benar-benar mereka lakukan
dengn baik, jadi tidak mengada-ada atau berlebihan.
Q : Bagaimana cara meningkatkan
percaya diri sang kakak akibat kurang kasih sayang dan terkadang jadi sasaran
pelepasan kemarahan ortu karen stress?
A : Coba kalau bisa malam ini bapak dan ibu renungkan kembali, apa saja yang
sudah kurang terperhatikan dari si kakak, misalnya tentang kesenangan atau
prestasi si kakak yang luput dari pujian. setelah itu berikan pada si kakak apa
yang sudah terlewat itu, misalnya : kak, maaf ya ayah lupa, waktu itu kamu
dapat nilai 90 ya ulangannya, makasih ya kak udah kasih yang terbaik untuk ayah
dan ibu.
Kita harus dekati terus hati si kakak. kita masuk ke dunianya juga misal : wah
kakak lagi main apa nih, ajarin ayah dong, keliatannya seru ya. setelah kita
mendapat hatinya kembali, barulah kita libatkan sang kakak pada pengurusan
adiknya.
Bagi tugas antara suami dan istri juga sangat penting. jadi saat ibu mengurus
adik, ayah bisa menemani kakak bermain.
Untuk yang single parent, sebaiknya libatkan pihak lain untuk membantu.