Tampilkan postingan dengan label Informasi Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2016

SEBUAH PELAJARAN BERHARGA UNTUK KITA SEMUA PARA GURU DAN ORANG TUA MENGAPA PARA GURU DI AUSTRALIA LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA




SEBUAH PELAJARAN BERHARGA UNTUK KITA SEMUA PARA GURU DAN ORANG TUA
MENGAPA PARA GURU DI AUSTRALIA LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA
Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?”
Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.
Inilah jawabanya;
1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.
1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain
dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.
Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang dipertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?
Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.
Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik,
Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu, … mau ?
APA AKIBATNYA JIKA KITA LUPA MENGAJARI ANAK KITA MENGANTRI ?
Inillah jadinya ketika mereka sudah dewasa ?
Sebuah peristiwa tragis yang TERJADI DI BULAN RAMADHAN, bulan yang mestinya penuh kesabaran, kelembutan dan berbagi, bukan berebut dan penuh kekerasan.

Pelajaran Berharga Dari Pulau Solomon, Meneriaki Pohon, Mengutuk Pohon



        Pohon memiliki “ruh” meskipun dia tidak merasakan sakit karena tidak memiliki sistem syaraf. Begitupun manusia yang memiliki ruh, hati, dan pikiran. Adalah sebuah kebiasaan yang ditemukan di sekitar penduduk kepulauan Solomon, yang terletak di Pasifik Selatan yaitu meneriaki pohon.
         Pulau solomon memiliki banyak pulau pulau tetangga lainnya, Namun yang terpadat ialah tepat di pulau solomonnya sendiri. Kisahnya pun tak banyak muncul di media, padahal ada kisah menarik dari pulau solomon. Sebuah kisah yang mungkin dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semuanya bangsa indonesia. Jadi di pulau solomon penduduknya ketika hendak mau membuka lahan baru untuk bercocok tanam, Mereka punya cara tersendiri untuk melakukannya. Pohon - pohon di hutan tidak lantas mereka tebang begitu saja, Akan tetapi mereka mengelilingi pohon - pohon itu sambil menyumpahi dengan kata - kata kutukan yang kasar lagi menghina. Selang beberapa hari pohon - pohon itu layu dan akhirnya mati dengan sendirinya.
        Filosofi membuat pohon mati dengan meneriakinya  ala pulau solomon ini dapat juga terjadi pada seorang guru yang terlalu biasa meneriaki siswanya dengan kata-kata “BODOH”, “LEMOT”, “IDIOT”, dan lain-lain. Siswa kita memiliki hati dan pikiran yang mana ketika dia mendapatkan ejekan dan teriakan negatif, maka hati dan pikiran akan meresponnya. Mereka lambat laun akan memposisikan diri pada apa yang biasa dia dengarkan. Mereka akan menjdai minder, kurang termotivasi, dan merasa dirinya tidak bisa melakukan hal apapun. Hal ini akan membunuh kreativitasnya, bahkan mimpi-mimpinya.
      Every child is SPECIAL. Setiap anak terlahir dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Tugas guru adalah memukan bakat mereka dan kembangkan potensi mereka. Arahkan dan motivasi mereka untuk meraih mimpi-mimpinya. Schunk (2012) menyatakan bahwa siswa yang merasa percaya diri untuk belajar dan berkinerja baik di sekolah mencari tantangan, berusaha memelajari materi baru, dan bersikap gigih pada tugas yang sulit. Siswa yang termotivasi belajar cenderung mengeluarkan lebih banyak usaha mental selama berlangsungnya aktivitas belajar-mengajar dan  menggunakan berbagai strategi kognitif yang diyakininya akan meningkatkan pemelajaran: mengorganisasikan dan menghafal informasi, memotivator level pemahaman dan mengaitkan materi baru dengan pengetahuan sebelumnya (Pintrich, 2003; Pintrich&De Groot, 1990 dalam Schunk, 2012).

Walikota Padang : Siswa Penghafal Al-Quran Bebas Memilih Sekolah Tanpa Tes

Islamedia – Kabar gembira bagi para siswa yang hafal Al-Qur’an, kini Wali Kota Padang Sumatra Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah mengeluarkan kebijakan bagi siswa penghafal Al-Quran dapat bebas memilih sekolah sesuai keinginannya.

“Siswa yang mampu hafal 1 juz, 3 juz dan 5 juz Alquran dapat masuk ke sekolah sesuai jenjang kelanjutannya,” ujar Mahyeldi.

Walikota yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjelaskan bahwa siswa SD yang hafal 1 Juz Alquran akan dibebaskan untuk masuk SMP mana pun, siswa SMP yang hafal 3 Juz dibebaskan memilih SMA manapun, sedangkan siswa SMA yang hafal 5 Juz diberi kesempatan masuk secara khusus ke universitas seperti yang dilakukan Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang.

“Siswa penghafal Alquran dijamin memiliki tingkat kepintaran dan kecerdasan di atas rata-rata, sehingga tidak akan ada kerugian bagi sekolah penerimanya,” Jelas Mahyeldi sebagaimana dilansir republika, Sabtu (16/4/2016) .

Untuk itu, dia mengapresiasi bagi sekolah atau perguruan tinggi di Padang yang telah menggalakkan program hafal Alquran bagi siswa atau mahasiswa. Seperti yang dilakukan oleh SMA 2 Padang, kata dia perlu dicontoh oleh sekolah lainnya. Sebab dengan begitu sekolah tersebut telah melakukan peningkatan kualitas sumber daya manusianya, sebutnya.

Senada dengan itu, Rektor Universitas Andalas Padang, Tafdil Husni mengatakan manusia penghafal Alquran termasuk golongan yang berintelektual tinggi. Sebagai bukti, tambahnya, saat lomba Musabaqah Tilawatil Quran, hafiz mahasiswa di Unand sebagian besar berasal dari fakultas yang favorit seperti Kedokteran, Teknik, dan MIPA. [islamedia/mh]

Rabu, 06 April 2016

PERAN ORANGTUA MENUMBUHKAN KONSEP DIRI POSITIF PADA ANAK

PERAN ORANGTUA MENUMBUHKAN KONSEP DIRI POSITIF PADA ANAK
Oleh ibu Natalia, M.Psi (psikolog anak)
*PERAN ORANGTUA            
Orangtua adalah lingkungan sosial pertama anak. Orangtua, lebih dari siapapun, mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembentukan konsep diri positif pada anak.
Orang tua yang memiliki konsep diri positif akan menampilkan tingkah laku yang menunjukkan rasa percaya diri dan memiliki pandangan yang optimis. Konsep dan sikap tersebut tersebut juga "ditularkan" kepada anaknya, baik melalui proses meniru ataupun melalui evaluasi yang diberikan orangtua terhadap perilaku anak. Orangtua dengan konsep diri positif, akan menunjukkan ekspresi rasa sayang dengan sering memeluk atau memberikan pujian terhadap setiap usaha dan keberhasilan anak.
*KONSEP DIRI POSITIF PADA ANAK
Anak yang memiliki konsep diri positif, dapat memandang, menilai dan memiliki persepsi yang positif mengenai dirinya. Konsep diri yang positif menurut Millie Ferrer dan Anne Fugate dalam karya ilmiahnya, “Helping Your School Age Child Develop a Healthy Self Concept”, formulasi dari perasaan nyaman terhadap diri sendiri, rasa diterima oleh lingkungan sekitar, dan rasa mampu melakukan sesuatu hal dengan baik. “Dia melihat dirinya sebagai orang yang dicintai dan berharga." Sebaliknya, anak yang memiliki konsep diri negatif, akan menunjukkan karakteristik sikap dan tingkah laku rendah diri. Hal ini dapat mengganggu penyesuaian diri anak di lingkungan sosial. “Anak bisa menarik diri, sulit berbaur dengan lingkungan sosial, tidak mandiri, sampai dapat menimbulkan perasaan terasing,” katanya. Misalnya, seorang anak mengajak temannya bermain, tetapi temannya tidak mau. Anak yang memiliki konsep diri yang positif akan berpikir, “Tidak apa-apa... Aku bermain dengan yang lain saja.” Sementara anak yang mempunyai konsep diri negatif mungkin akan berpikir sebaliknya, “Dia tidak suka padaku.” Konsep diri negatif,juga dapat mempengaruhi pencapaian prestasi akademis. Misalnya ketika anak mendapat nilai jelek, anak yang memiliki konsep diri positif, merasa terpacu untuk belajar lebih keras dan berusaha untuk mendapatkan nilai yang lebih baik pada ujian berikutnya. Berbeda dengan anak yang memiliki konsep diri negatif yang mudah putus asa, dan bahkan kemudian menganggap dirinya bodoh atau tak punya kemampuan untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu jika orang tua sudah 'terlanjur' memiliki konsep diri yang negatif, sebaiknya orangtua menyadari kondisi dirinya dan berusaha menciptakan atmosfer yang kondusif bagi perkembangan anaknya. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan evaluasi dan penilaian yang bersifat positif terhadap anak. Sebagai suatu proses, memang tidak mudah mengubah konsep diri yang sudah terbentuk. Namun tidak ada salahnya orangtua berusaha menggali berbagai potensi yang dimiliki, mengubah sikap pesimis menjadi optimis, serta bersikap lebih terbuka terhadap penilaian dari orang lain yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki diri.
* KESIMPULAN
Jadi hal penting yang harus dilakukan orangtua dgn anak special needs: salurkan emosi dgn benar,terima dan beri dukungan sesama anggota keluarga,lebih sabar,jgn mencemaskan hal2 yang belum terjadi,buat hidup lebih teratur,istirahat cukup,kompak dengan pasangan (pembagian tugas),banyak beri pujian pada anak,libatkan siblings dalam merawat atau melatih keterampilan sehari2, fokus pada kata2 positif dr lingkungan, usahakan selalu ada 'me time',terbuka pada masukan positif,jgn membanding2kan anak dgn kelebihan anak lain,dan terakhir jangan lupa tunjukkan SENYUM terbaik anda setiap hari di depan anak2.
Q & A session
Q : Anak saya bulan November nanti 2 thn. Kadang ya rebel gitu. Tantrum atau apalah, ada yang bilang kalau masuk terible two. Bagaimana mengatasinya ya?
A : usia 2 sampai 4 thn anak masuk tahap negativistik bu, jadi biasanya anak akan membantah apapun yg kita ucapkan. Saat anak rebel, orang tua diharapkan tetap tegas pada aturan. Tidak ya tidak. saat ini anak sedang dikenalkan pada aturan yang ada di sekelilingnya.
Jika dia tantrum dan kita turuti keinginannya, maka tantrumnya akan semakin berat
Saat tantrum, segera alihkan pada hal lain yg menarik bagi anak.
Q : Terkait dengan masalah penetapan aturan, bagaimana cara menyingkapi perbedaan budaya yang juga beda penetapan aturan? Agar anak juga tidak jadi bingung.
A : Sebelum menerapkan aturan, sebaiknya dibuat dulu kesepakatan antara suami dan istri, jadi jangan sampai ada 2 suara saat sudah berhadapan dengan anak
Q : Bagaimana cara yang baik dalam menghadapi anak yang tantrum?
A : Beberapa pasien yang saya terapi, saat mereka tantrum, hal yang paling cepat menenangkan mereka adalah musik atau bernyanyi, tapi kalau sudah mulai menyakiti diri sendiri, biasanya kita peluk anak dari belakang sambil memberi kata-kata yang menenangkan, setelah reda kita beri kegiatan lain yang dia suka.
Q : Kalau pada keluarga yang jarang ada kehadiran salah 1 ortu bagaimana yah? Misal sang ayah jarang hadir di rumah.
A : kalau sedang tidak ada pasangan (suami) diharapkan ada pihak lain yang membantu, karena kalau tidak ada bantuan sama sekali, stress pada ibu akan meningkat sehingga emosi seringkali tidal terkontrol, tapi kalau anak sudah lebih besar usianya, kita latih dia untuk lebih mandiri, misalnya ambil gelas sendiri, dengan demikian tugas ibu menjadi tidak terlalu berat.
Bantuan dari pihak luar sangat dibutuhkan, kalau tidak ada keluarga dekat, kita bisa pakai PRT harian untuk membantu tugas sehari-hari, jadi kita bisa lebih fokus pada anak.
Q : Bagaimana jika emosi sempat benar-benar tidak terkendali dan sudah terlanjur 'meledak'?
A : Jika saat itu sudah terlanjur 'meledak', sebaiknya setelah itu beri penjelasan pada anak, misal : maafin mama ya nak, tadi mama marah terlalu keras, mungkin karena mama cape sekali hari ini.(sambil peluk anak-anak)
Q : Anak saya tinggal di asrama. Dia selalu punya target dalam belajar padahal kondisi kesehatannya kurang memungkinkan. Bagaimana cara menasehati yang baik agar dia tidak demotivasi.
A : Mungkin ibu bisa kenalkan beberapa hobby baru pada anak ibu, sehingga dia tidak selalu fokus pada pelajaran, misalnya bidang musik atau olah raga, kedua bidang ini bisa membuat anak ibu lebih relaks.
Selain itu, sebaiknya anak sering diberi pujian untuk hal-hal kecil dan tidak terlalu mendapat banyak kritikan sehingga targetnya tidak terlalu tinggi.
Q : Anak saya pernah bilang bahwa dia sering ijin karena sakit. Katanya kalo dia tidak semangat belajar dia tidak punya hal yang bisa dia banggakan (menurutnya begitu). Apakah itu efek dari saya sebagai single parent?
A : Iya bu, anak-anak dari keluarga yang sudah berpisah biasanya memiliki konsep diri negatif, jadi sangat membutuhkan penjelasan dari kedua orangtua dengan cukup bijak, yang bisa menenangkan anak-anak.
Komunikasi antar orangtua juga sebaiknya tetap terjalin dengan baik. Setidaknya anak tahu bahwa orangtuanya tidak saling bermusuhan.
Q : Bagaimana jika orang terdekat seringkali melontarkan kata-kata negatif?
A : Kata-kata negatif dari lingkungan bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental keluarga, sebaiknya diberi pengertian agar selalu fokus pada hal-hal positif dalam diri anak dan mau bekerja sama untuk meningkatkan konsep diri positif pada anak
A : Saya sering dapat info jangan mennyebut anak dengan kata negatif, seperti kamu anak nakal, tapi saat emosi hal itu selalu tidak sengaja terlontar, apa yang seharusnya kami lakukan sebagai orangtua untu menunjukkan tindakan anak itu salah dan tidak boleh diulang lagi?
Q : Iya bu, saat emosi biasanya sulit mengontrol kata-kata tapi tetap tegaskan pada anak apa kesalahan dia dan kenapa orangtua sampai marah, lalu tanyakan kembali pada anak, apa sudah paham atau belum kesalahan dia di mana, dan tanyakan juga pada anak, seandainya dia mengulangi kembali, konsekuensi apa yang ingin dia terima dari orangtuanya, biasanya jika anak yang mengatakan konsekuensinya, anak akan lebih patuh dan tidak marah saat dia mendapat konsekuensi negatif itu, misal : iya ma, kalau aku nakal lagi aku gak akan nonton tv 1 hari.
Q : Terkait dengan konsep diri. Pada ABK kan rentan banget dibully, ini bagaimana mengatasinya? Apakah cukup dengan kita mengencourage si anak bahwa dia adalah diri yg positif? Atau ada cara lain? Kan kalau ortu cuma 2orang jika dibanding dengan lingkungan yang banyak itu bagaimana?
A : Untuk anak yang dibully, sebaiknya libatkan pihak lain misalnya guru untuk menjembatani antara anak dan teman-temannya, guru bisa meminta anak lain untuk membantu ABK untuk lebih berkembang di kelasnya misalnya jadi asisten guru cilik, ini sudah diterapkan di beberapa sekolah.
Untuk anak kita sebaiknya terus cari apa kelebihan yang dia miliki yang tidak dimiliki anak lain, dan buat dia bangga dengan kelebihannya itu.
Q : Bagaimana jika yang membully justru orang dekat,dewasa seperti misalnya eyang, om, tante, dsb?
A : Dua sosok terpenting dalam hidup anak adalah ayah dan ibunya, kepercayaan anak tercurah pada apa yang dikatakan oleh kedua orgtuanya. Jadi jika orangtuanya selalu positif, anak akan terbawa menjadi positif. apapun yang dikatakan oleh lingkungan biasanya tidak akan menusuk sedalam kalau orangtua yang mengatakan hal itu, jadi terus beri pujian, cari kelebihan anak, dan jangan lelah untuk berbicara pada eyangnya atau yang lain bahwa si kecil adalah hadiah terindah dari Tuhan.
Q : Bagaimana jika justru sang ayah yang membully si anak?
A : Terus dekati hati anak, beri pujian supaya dia lebih kuat menghadapi lingkungan yang negatif.
Ada salah satu pasien saya yang orangtuanya sangat positif, kemanapun mereka pergi anaknya selalu diajak (sekarang usia anaknya sudah 35 tahun). kepada siapapun mereka selalu menceritakan hal positif tentang anaknya, walaupun memiliki keterbatasan, tapi mimik wajah anaknya selalu happy dan tanpa beban.
Q : Apakah ABK secara psikologis lebih sensitif?
A : betul, memang lebih sensitif.
Q : Kata-kata positif yang benar itu seperti apa contohnya dan kata-kata apa yang harus dihindari untuk komunikasi dengan anak?
A : Contohnya :
- Kamu anak mama yang paling baik.
- Wah hebat anak mama bisa mandi sendiri?
- Terima kasih ya gelasnya sudah ditaruh di dapur.
Kata-kata yang harus dihindari adalah kata-kata negatif seperti :
- Koq gitu aja gak bisa sih?
- Koq lama sekali sih pakai bajunya?
- dll
Ke pihak luar juga bisa dikatakan :
- Anak saya hebat lho, tadi dia bisa buka kunci sendiri ( hal2 kecil apapun bisa diberikan pujian pada anak)
Q : Apakah selalu memberikan pujian akan berdampak buruk?
A : Aturan tetap harus diberikan dengan tegas, kalau salah harus diberi konsekuensi negatif ( misal ditarik hal-hal yang dia sukai), jadi tidak selalu diberikan pujian.
Untuk ABK yang memiliki banyak keterbatasan kata-kata positif sangat membantu mereka untuk survive karena lingkungan seringkali bersikap sangat negatif pada mereka, tapi tetap kita puji untuk hal-hal yang benar-benar mereka lakukan dengn baik, jadi tidak mengada-ada atau berlebihan.
Q : Bagaimana cara meningkatkan percaya diri sang kakak akibat kurang kasih sayang dan terkadang jadi sasaran pelepasan kemarahan ortu karen stress?
A : Coba kalau bisa malam ini bapak dan ibu renungkan kembali, apa saja yang sudah kurang terperhatikan dari si kakak, misalnya tentang kesenangan atau prestasi si kakak yang luput dari pujian. setelah itu berikan pada si kakak apa yang sudah terlewat itu, misalnya : kak, maaf ya ayah lupa, waktu itu kamu dapat nilai 90 ya ulangannya, makasih ya kak udah kasih yang terbaik untuk ayah dan ibu.
Kita harus dekati terus hati si kakak. kita masuk ke dunianya juga misal : wah kakak lagi main apa nih, ajarin ayah dong, keliatannya seru ya. setelah kita mendapat hatinya kembali, barulah kita libatkan sang kakak pada pengurusan adiknya.
Bagi tugas antara suami dan istri juga sangat penting. jadi saat ibu mengurus adik, ayah bisa menemani kakak bermain.
Untuk yang single parent, sebaiknya libatkan pihak lain untuk membantu.


Bilal Bin Rabah Al Habasyi

ABU TARIQ HIJAZI

Bilal Bin Rabah ra adalah salah satu nama yang paling terkenal dalam sejarah Islam. Seorang budak Negro dari Habsyah (Ethiopia), Bilal merupakan bukti nyata dari penghormatan Islam terhadap kesetaraan sosial, anti rasisme dan keadilan sosial.

Lahir pada 680 Masehi di Mekkah, bersama orang tuanya - Rabah dan Hamamah - Bilal juga menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf, seorang musuh Islam.

Ketika Umayyah mendengar bahwa Bilal masuk Islam, ia menyiksanya dan memaksanya untuk melepaskan keimanan barunya. Tetapi dengan penuh kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dan Islam, Bilal tetap teguh dalam keimanannya. Meskipun ia disiksa dengan kejam ia terus mengatakan "Ahad, Ahad." (Allah itu satu, Allah itu satu)

Ketika Nabi Muhammad saw mengetahui tentang penganiayaan yang dialami Bilal, ia mengutus Abu Bakar ra, yang menebusnya dari sang penindas dan membebaskannya dari perbudakan. Kebebasan ini adalah hadiah pertama Islam kepada Bilal. Khalifah Kedua Umar Bin Khattab menghormati Bilal dengan menyebutnya sebagai Sayyidina (pemimpin kami).

Bilal menjadi salah seorang sahabat yang paling dipercaya dan setia kepada Nabi Muhammad saw. Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam. Bilal ikut hijrah bersama Nabi Muhammad saw ke Madinah dan ikut dalam pertempuran-pertempuran besar termasuk perang Badar, Uhud, Khandaq dll. Saat Perang Badar, ia berhashil membunuh musuh Islam dan orang yang telah memperbudak dan menindasnya - Umayyah.

Nabi Muhammad saw adalah orang pertama yang menyatakan kesetaraan diantara manusia dalam sejarah dunia 1400 tahun yang lalu. Dihadapan lebih dari 120.000 sahabat saat haji, beliau menyatakan:

"Wahai para manusia, ingatlah sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan bapak kalian itu satu. Ingatlah, tidak ada keunggulan orang Arab atas orang ajam/asing, dan tidak bagi orang ajam atas orang Arab, tidak bagi orang kulit putih atas kulit hitam, dan tidak bagi orang kulit hitam atas kulit putih kecuali taqwa."

Nabi memilih Bilal menjadi salah satu sahabat yang mulia. Munculnya Bilal sebagai seorang yang menonjol dalam sejarah Islam adalah bukti pentingnya pluralisme dan kesetaraan ras dan sosial dalam Islam.

Saat Abdullah bin Ziyad menceritakan bahwa ia telah bermimpi diajari metode dan kalimat Azan, Nabi Muhammad saw menyukainya dan menunjuk Bilal sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan di Madinah dengan bacaan tersebut. Ketika Umar ra mendengar azan, ia bergegas mendatangi Nabi Muhammad saw dan mengatakan kepada beliau bahwa ia juga bermimpi azan dengan bacaan yang sama. Dengan demikian azan dikumandangkan pertama kali oleh Bilal. Nabi saw menunjuknya sebagai Muazzin Rasul.

Karena Bilal merupakan orang Afrika pertama yang memeluk Islam, umat Islam Afrika masih merasa bangga dengan kehormatan yang diberikan kepada orang Afrika tersebut.

Kehormatan besar lainnya bagi Bilal adalah setelah Fatah Mekkah pada 8 Hijriah. Ketika kota Mekkah menyerah dan semua orang baik Muslim dan non Muslim berkumpul di suatu halaman, Nabi saw meminta Bilal untuk menaiki atap Ka'bah dan mengumandangkan azan dari atasnya. Ini adalah azan pertama yang dikumandangkan di Mekkah al-Mukarromah.

Begitulah pengabdian Bilal di dalam Islam dan pencapaian kerohanian yang ia dapatkan.

Suatu kali Nabi Muhammad saw bersabda:
"Wahai Bilal, perbuatan khusus apa yang telah engkau lakukan sehingga saya mendengar suara langkahmu berjalan di depanku di Surga." Bilal menjawab, "Setiap kali saya berwudhu, saya melaksanakan shalat dua rakaat sebagai Tahiyyatul Wudhu."
Bilal merupakan seorang Ashabssuffah. Istilah Ashabussuffah adalah sebutan kepada para sahabat yang tinggal di beranda, disamping masjid Nabi saw di Madinah setelah hijrah dan mempelajari ilmu-ilmu agama disana.

Sejak Bilal mendapatkan kehormatan menjadi salah satu Suffa, ia mengumpulkan banyak hadists Nabi saw. Sekitar 20 ulama merupakan bagian dari Ashabussuffa, diantaranya Usamah bin Zaid, Bara Bin Azib dan Abdullah bin Umar.

Ketika Raja Najasyi dari Habsyah mengirim tiga tombak sebagai hadiah kepada Nabi Muhammad saw, Nabi saw memberikannya kepada Umar, Ali, dan Bilal yang menggunakan tombak untuk membenarkan arah shalat.

Bilal di Syiria

Setelah Nabi Muhammad saw wafat, Bilal merasa sulit untuk menghabiskan waktu di Madinah tanpa Nabi tercinta (saw). Dia meminta kepada Khalifah Abu Bakar untuk membiarkannya pergi ke Syiria untuk berjihad. Dan disana ia menghabiskan sisa waktu hidupnya. Ia mengumandangkan azan hanya dua kali setelah itu. Yang pertama adalah ketika Khalifah Umar bin Khattab datang ke Syiria dan kedua kalinya ketika ia mengunjungi makam Nabi Muhammad saw di Madinah. Setelah mendengar suara azannya orang-orang menangis, karena mengingat masa-masa kehidupan Nabi Muhammad saw.

Bilal meninggalkan Madinah untuk pergi ke Syiria (kemudian Syam) dan tinggal disana. Ketika Khalifah Umar mengunjungi Baitul Maqdis (Yerusalem), ia meminta Bilal untuk mengumandangkan azan. Dan ketika ia mengumandangkan Azan, para sahabat menangis tersedu-sedu teringat masa lalu. Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar menangis yang mana ia belum pernah menangis seperti itu sebelumnya.

Ketika Bilal berada di Syiria, ia melihat dalam mimpi Nabi Muhammad saw berkata kepadanya "Wahai Bilal, mengapa engkau tidak mengunjungiku". Ia kemudian langsung bergegas ke Madinah dan menyampaikan shalawat dan salam di makam Nabi saw sambil menangis dan menempelkan wajahnya ke makam Rasul.

Ketika ia melihat Hassan dan Husain, cucu Nabi saw, ia langsung merangkul mereka. Atas permintaan mereka, Bilal mengumandangkan azan dengan suara gemetar dan berlinangan air mata. Mendengar Azannya Bilal, orang-orang berdatangan ke Masjid Nabawi. Ini adalah azan terakhirnya di Madinah.


Makam Bilal Bin Rabah

Bilal menghabiskan hari-hari terakhirnya di Syiria. Beliau wafat pada 18 Hijriah pada usia 64 tahun dan dimakamkan di Bab-al-Sagheer dekat Jama Umavi di Damaskus. Ia melayani Nabi saw selama 25 tahun.

Islam telah mengangkat derajatnya pada tingkat seperti yang Umar bin Khattab memanggilnya sebagai Sayyidina (pemimpin kami).

Di saat-saat pembaringan terakhirnya, istrinya Hind menangis, 'wa hazana' (suatu kesedihan yang besar) dan Bilal menjawab, Wa Tarabaa' (suatu sukacita yang besar); "Besok saya akan berjumpa dengan orang yang saya cintai - Muhammad saw dan para sahabatnya."

Sumber: ARABNEWS.COM
Dikutip dari: The Muslim Times